Mangkuk terakhir Pak Sarmun keluar pukul 05.40
Sasmita Larasati, Selasa 13 Oktober 2026. Catatan ke-212, dicatat di Jakarta Pusat.
Lampu gerobak Pak Sarmun sudah menyala waktu saya sampai di mulut gang. Satu bohlam, digantung di paku yang sama sejak saya pertama ke sini. Dandangnya belum dibuka. Aspal masih basah bekas hujan semalam, dan suara paling keras di gang itu sendok kayu yang mengetuk bibir dandang. Dua orang sudah duduk: sopir angkot yang baru pulang dan seorang ibu yang mau berangkat. Dulu jam segini saya baru keluar dari percetakan. Sekarang saya bangun untuknya.
Tutup dandang diangkat. Uapnya naik lurus, kena lampu, lalu hilang di atap gerobak. Bubur Pak Sarmun kental; sendok bisa berdiri sebentar sebelum rebah. Ia menuang kuah kuning dulu, lalu ayam suwir, cakwe, kedelai goreng, daun bawang, seledri, bawang goreng. Kecap terakhir, satu putaran. Sambal tidak ia tawarkan. Kamu ambil sendiri, dan ia melihat berapa banyak.
Mangkuk pertama saya habis dalam sebelas menit. Saya mencatatnya karena sebelas menit adalah waktu yang cakwe butuhkan untuk berubah dari renyah jadi spons. Kalau kamu memotret dulu, kamu makan bubur yang lain. Panasnya menggigit lidah sampai suapan keenam. Sesudah itu kaldunya baru terasa: ayam kampung, jahe sedikit, merica secukupnya.
Antrean jadi tujuh orang, semuanya berdiri. Pak Sarmun tidak mempercepat tangannya. Ia mulai memiringkan dandang, tanda yang saya hafal: isinya tinggal sepertiga. Seorang anak berseragam minta dibungkus dua. Saya memesan mangkuk kedua untuk satu pertanyaan: apakah bubur di dasar dandang lebih asin? Ya, sedikit, dan saya lebih suka yang ini.
Kerupuknya habis lebih dulu dari buburnya. Pak Sarmun menggantinya dengan emping dari stoples kedua tanpa berkata apa-apa. Saya bertanya sejak kapan ia mangkal di sini. "Sejak lampu ini masih 25 watt," katanya. Sekarang 40. Ia tidak ingat tahunnya, dan saya percaya ukuran itu.
Mangkuk terakhir keluar untuk tukang parkir yang baru datang. Orang sesudah dia pulang dengan tangan kosong dan tidak marah. Ia melihat jam, lalu mengangguk seperti orang yang kalah dengan adil. Pak Sarmun membalik dandang dan mengetuknya dua kali. Lampu jalan masih menyala. Langit di ujung gang mulai biru.
Saya menulis jam habis di tiap catatan karena itu keterangan paling jujur yang bisa saya berikan. Rasa bisa kamu bantah. Pukul 05.40 tidak bisa. Tulisan tentang sarapan yang tidak menyebut jam habisnya menyuruhmu datang ke gerobak kosong, dan saya sudah cukup sering berdiri di depan gerobak kosong. Untuk bubur Pak Sarmun saya menyetel alarm 03.45. Itu nilai tertinggi yang saya punya. Besok ia libur, jadi besok saya menulis yang lain.








